Efisiensi penerbangan haji terus dikaji oleh pemerintah Indonesia. Efisiensi tersebut bisa memangkas waktu perjalanan sehingga dapat mempercepat penyelenggaraan haji.

Maka sistem komputer dimiliki Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) harus ditingkatkan dan dapat diintegrasikan dengan sistem IT Kementerian Haji Saudi, karena pemerintah Saudi menghendaki sistem di semua negara muslim bisa terintegrasi dikenal dengan e-hajj. Oleh karen itu depan, sistem informasi dimiliki harus aplikatif, sesuai dengan kebutuhan.

Sistem komputerisasi haji terpadu  dikembangkan menjadi sistem aplikatif. Publik harus bisa mengakses, kapan seseorang berangkat haji dan bagaimana proses penyelesaian biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH). Maka perlu segera rampung secepatnya mengingat upaya peningkatan pelayanan haji harus cepat diperbaiki.

Membangun IT baik akan banyak membantu pelayanan kepada masyarakat, sehingga transparansi dan akuntabilitas dibangun jajaran Kementerian Agama bisa dilaksanakan. Dengan cara demikian, publik akan menaruh kepercayaan lebih besar lagi kepada kementerian itu.

Menag Lukman mengakui penyelenggaraan ibadah haji 1435 H/2014 M menuai pujian dari berbagai pihak. Komplain jemaah haji dapat pemondokan jauh dari Masjid Nabawi, Madinah, sudah dapat diselesaikan. Setiap orang mendapat penggantian sebesar 300 rial dari majmuah.

Namun pada tahun ini pula tingkat kematian jemaah haji meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tercatat sampai saat ini 275 orang pasca-wukuf. Pada tahun lalu tercatat 266 orang. Banyaknya anggota jemaah haji wafat itu disebabkan mereka termasuk kelompok berisiko tinggi dan usia lanjut.

Pada tahun 2014 memang jemaah haji Indonesia kebanyakan berusia lanjut. Hal itu disebabkan Kementerian Agama memprioritaskan jemaah usia lanjut melalui sisa kuota tidak terserap. Pada tahun lalu sisa kuota, jumlahnya ratusan, dimanfaatkan oleh kelompok tertentu. Sekarang sisa kota tak terserap hanya sembilan orang karena berbagai alasan.

Perbaikan mendesak, terletak pada penggunaan IT. Dengan cara demikian, ke depan akan diketahui setiap seseorang sudah berhaji. Sehingga penerapan haji wajib sekali bagi seorang Islam dapat diterapkan. Melalui cara demikian, seseorang belum berhaji akan terbuka lebih besar untuk lebih cepat menunaikan ibadah haji.

Efisiensi terjadi apabila jamaah haji geombang I kita bisa langsung tiba mendarat di Madinah dan gelombang II bisa kembali ke tanah air dari Bandara Madinah. Sehingga jamaah haji tidak melakukan perjalanan darat dari madinah ke mekkah atau sebaiknya seperti terjadi selama musim haji sebelumnya.

Rute penerbangan seperti ini akan mengungtungkan jamaah haji. Sebab jamaah tidak karena tidak perlu lagi menempuh perjalanan darat Jeddah ke Madinah atau sebaliknya ditempuh selama 5 hingga 6 jam.

Di samping perubahan rute penerbangan, disediakan ruangan untuk dijadikan kantor di kawasan bandara Jeddah, untuk mempemudah pengurusan haji setibanya di Bandara.

Pemeriksaan Mahram di ruang imigrasi bandara, tidak diperlukan. “Sebab seluruh jamaah haji kita telah bermahram, baik mahram suami-istri maupun mahram grup dalam sebuah kloter.

Selain itu pasokan air zamzam untuk jamaah haji Indonesia diangkut dengan pesawat khusus. Kita akan meminta Saudi Airliness agar bisa mengangkut air zam-zam dengan menggunakan empty-flight.