Manusia menduga bahwa bilamana Allah Subhanahu wa Ta’ala meluaskan rizkinya dengan menjadikannya kaya maka ia mempercayai bahwa urusan tersebut adalahtanda dicinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Padahal tidak demikian halnya, karena urusan tersebut sama saja kaya atau kurang mampu hanyalah ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Adapun manusia bilamana Tuhannya mengujinya kemudian dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia bakal berkata: “Tuhanku sudah memuliakanku”.

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu memberi batas rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya anda tidak menghormati anak yatim, dan anda tidak saling menyuruh memberi santap orang miskin, dan anda memakan harta pusaka dengan teknik mencampur baurkan ( halal dan bathil), dan anda mencintai harta benda dengan kerinduan berlebihan.” (QS. Al Fajr: 20)

Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak Kami berikan untuk mereka tersebut (berarti bahwa), Kami bersegera menyerahkan kebaikan-kebaikan untuk mereka? Tidak, sebetulnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’-minuun: 55-56)

Di sisi lain, bilamana Dia menguji dan mencobanya dengan kesempitan rizki, maka ia mempercayai bahwa urusan tersebut adalahpenghinaan dari Allah terhadapnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sekali-kali tidak,” yaitu perkaranya tidak sebagaimana ia sangka. Allah tidak menghormati seseorang dengan menyerahkan keluasan rizki kepadanya, dan tidak menghinakannya dengan menyerahkan rizki sempit.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerahkan harta atau rizki, untuk orang Dia cintai maupun orang tidak Dia cintai.

Begitu pun Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempitkan rizki, baik untuk orang Dia cintai, maupun orang tidak Dia cintai.