Indahnya Masjid Bir Ali Miqat Jamaah Umroh dan Haji

Masjid Bir Ali letaknya hanya 15 menit dari Kota Madinah. Di perbatasan tanah haram, tepatnya 11 kilometer dari Masjid Nabawi, dan 9 kilometer dari sisi luar Kota Madinah adalah tempat cantik bernama Masjid Bir Ali. Nun dari kejauhan mulai tampak sebuah menara menyembul dari balik gerumbul pepohonan di bawah lembah.

Dahulu di jaman Rasulullah SAW, lembah itu disebut Lembah Aqiq. Baru terasa sebentar menjejak Kota Madinah, 15 atau 20 menit perjalanan dengan bus berpenumpang 45 orang, kini tibalah rombongan peziarah itu di Bir Ali. Mereka akan menunaikan ibadah umrah ke Kota Mekkah dan mengambil miqat di sini sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW berabad lampau.

Lokasi masjid tempat mengambil miqat haji dan umrah ini agak turun ke bawah, menuju lembah yang menghijau. Menara itu ternyata tidak pendek, tingginya 64 meter menjulang perkasa ke langit dengan bentuknya yang seperti sebuah mercusuar.

Di belakangnya sebuah bukit berbatu cadas menjadi pemandangan lain yang juga menakjubkan mata. Bangunan mesjid Bir Ali telah nampak jelas ketika bus memasuki pelataran parkir yang mampu menampung 500 buah mobil dan 80 bus berukuran besar. Dari luar bangunan yang bentuknya seperti bujursangkar itu tampak kaku. Parkir yang lapang. Dari sini tampaklah sebuah bangunan mirip benteng, yang dirancang oleh arsitek termahsyur Abdul Wahid El Wakil. Konon, sang arsitek terinspirasi oleh masyarakat di sekitar lembah ini dalam membuat rancangannya.

Sejarah Masjid Bir Ali dan Rasulullah SAW

Menurut sejarah, Masjid Bir Ali dibangun di tempat mana Rasulullah SAW pernah bernaung di bawah sebuah pohon sejenis akasia saat menuju Kota Mekkah untuk menunaikan ibadah umrah. Begitupun sekarang, setiap peziarah yang akan melaksanakan ibadah haji dan umrah dari arah Kota Madinah selalu berhenti sejenak di tempat anggun ini untuk mandi, shalat sunnat ihram 2 rakaat, dan mengambil niat ihram.

Masjid Bir Ali dikenal dengan banyak nama. Disebut Bir Ali (bir berarti kata jamak untuk sumur), karena pada jaman dahulu Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA menggali banyak sumur di tempat ini. Sekarang, bekas sumur-sumur buatan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak tampak lagi. Barangkali sudah terkubur karena pembangunan dan perluasan masjid ini.

Masjid Bir Ali disebut juga Masjid Al Ihram dan Masjid Al Miqat karena fungsinya sebagai tempat berihram dan mengambil miqat bagi umat Islam yang akan menunaikan haji dan umrah. Selain itu Masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Syajarah (yang berarti pohon), karena sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya masjid yang cantik ini dibangun di tempat mana Nabi Muhammad SAW pernah berteduh di bawah sebuah pohon (sejenis akasia).

Kemudian, beberapa orang mungkin juga menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Dzul Hulaifah, karena letaknya berada di Distrik Dzul Hulaifah.

Rasulullah SAW selalu singgah dan mengambil miqat di Masjid ini, begitupun sekarang para peziarah yang akan menuju Mekkah, mencontoh apa yang telah diteladankan oleh Beliau. Jarak dari Masjid Bir Ali ke Kota Mekkah sebenarnya masih cukup jauh. Perlu waktu 4 sampai 6 jam naik bus untuk tiba di Mekkah karena jaraknya masih lebih kurang 450 km.

Sebagaimana disyariatkan, ada 3 hal yang harus diamalkan saat mengambil miqat, termasuk miqat di Bir Ali ini, yaitu: (1) mandi sunnat ihram dan memakai pakaian ihram; (2) shalat sunnat ihram 2 rakaat; dan (3) berniat ihram serta bertalbiyah.

Uniknya Masjid Bir Ali

Karena banyaknya jamaah yang mandi di Bir Ali sebelum memakai pakaian ihram, maka jangan kaget apabila masjid cantik ini dilengkapi dengan 512 toilet dan 566 kamar mandi. Beberapa di antaranya dikhususkan untuk peziarah yang memiliki kekurangan fisik (cacat tubuh). Meskipun banyak sekali toilet dan kamar mandi, tak sedikitpun bau pesing menguar. Seluruh bagian masjid mulai dari daun pintu, karpet, hingga toilet dan kamar mandi berbau wangi. Ada banyak petugas kebersihan di sini. Beberapa bahkan orang Indonesia. Mereka ada yang bekerja sebagai petugas kebersihan toilet dan kamar mandi hingga penjaga kebersihan taman dan halaman masjid.

Sebenarnya mandi sunnat ihram dapat dilakukan di hotel sewaktu para jamaah berada di Kota Madinah. Akan tetapi apabila waktu yang tersedia cukup panjang untuk berada di Bir Ali, maka beberapa dari para peziarah lebih suka mandi di masjid ini karena lebih afdol. Karena itu kamar mandi yang banyak itu selalu saja penuh sesak pada musim haji dan mereka harus antre di depan pintu-pintu kamar mandi, toilet, dan kran wudhu. Beberapa peziarah yang entah karena apa terlupa mengeluarkan 2 helai kain ihram dari kopernya tidak perlu khawatir tidak bisa mengambil miqat di sini. Ada banyak kios-kios kecil berjejer di dekat lapangan parkir yang menjual kain ihram dan suvenir khas tanah suci lainnya.

Masjid Bir Ali yang terletak di antara jalan raya antara Madinah dan Mekkah ini memang menawarkan kesejukan bagi mata. Bagaimana tidak, pohon-pohon rindang terawat, pohon-pohon kurma dan sejenisnya berbaris rapi di sepanjang jalur-jalur indah dari batu granit. Pepohonan itu tumbuh di atas tanah berumput hijau nan lembut. Banyak peziarah yang sebelum shalat berfoto-foto di beberapa bagian taman dan samping masjid, merekam kenangan indah di tanah suci. Sebagian lagi mungkin terlihat buru-buru dan terpaksa mengabaikan keindahan itu karena waktu yang diberikan oleh koordinator peziarah hanya 15 menit.

Menyusuri taman di sekitar Masjid Bir Ali memang memberi kesan yang mendalam karena keindahannya. Akan tetapi, yang lebih luar biasa lagi adalah bagian dalam sisi Masjid berupa koridor selebar 6 meter berbentuk galeri dengan tiang-tiang indah dan lengkungan-lengkungan cantik setinggi 28 meter dengan kubah putih memanjang di atasnya akan membuat kita terpana. Subhanallah, indah sekali.

Menurut sejarahnya, Masjid Bir Ali mengalami beberapa kali renovasi. Dimulai pada masa pemerintahan Gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz (87 -93 Hijriyah), kemudian oleh Zaini Zainuddin Al Istidar pada tahun 861 Hijriyah (1456 Masehi), lalu pada jaman Dinasti Usmaniah dari Turki dengan dibantu seorang muslim dari India pada tahun 1090 Hijriyah (1679 Masehi), hingga terakhir oleh Raja Abdul Aziz yang memerintah Kerajaan Saudi Arabia dari tahun (1981 sampai 2005 M). Masjid yang semula kecil dan sederhana kini menjelma menjadi bangunan indah ini. Keseluruhan areal masjid luasnya sekitar 9.000 meter persegi yang terdiri dari 26.000 meter persegi bangunan masjid, dan 34.000 taman, lapangan parkir, dan paviliun.

Dan, ketika tiba saatnya masuk ke ruang shalat, suasana khusuk dan damai yang lain akan dirasakan. Bagi jamaah perempuan lebih mudah masuk melalui pintu besar nomor 6, 7, dan 8. Di pintu nomor 8 sepertinya lebih lengang dibanding dua pintu lainnya. Selesai shalat 2 rakaat, maka saatnya kembali ke bis dengan disambut senyuman ramah sopir yang mungkin berkebangsaan India, Pakistan, atau Bangladesh. Atau bahkan orang Indonesia.

Mulailah sesama peziarah mengingatkan untuk mematrikan niat umrah atau haji. Juga tentunya saling mengingatkan larangan-larangan ihram yang ada 13 macam. Bis bergerak perlahan-lahan meninggalkan Masjid Bir Ali bersama lantunan talbiyah dari para peziarah pria. Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wanniā€™mata laka wal mulk la syarika laka…..