Peninajauan persiapan akhir penyelenggaraan layanan Haji Indonesia dilakukan oleh menteri agama. Menag pun menulis adanya sebanyak 10 inovasi pembaharuan pada musim haji 2018.

Pertama, yakni inovasi berhubungan rekam biometriks. Sejak 2016, Kemenag terus mengusahakan supaya rekam biometrik merangkum data 10 sidik jari dan potret wajah jamaah haji dapat dilakukan di Indonesia. Upaya tersebut dapat terealisasi tahun ini, rekam biometriks sudah dapat dilakukan pada semua keberangkatan haji di Indonesia.

“Inovasi ini akan mencukur antrian dan masa tunggu paling panjang saat pengecekan imigrasi jamaah, baik di Bandara Madinah maupun Bandara Jeddah,” ujar Lukman dalam penjelasan tertulis diterima //Republika.co.id//, Selasa (12/6).

“Dari sebelumnya dapat 4-5 jam, tahun ini diinginkan antrian jamaah di kedua bandara di Saudi itu melulu sekitar satu jam,” imbuhnya.

Setibanya di bandara Madinah atau Jeddah, dengan inovasi ini jamaah tinggal mengerjakan verifikasi akhir dengan perekaman melulu satu sidik jari dan stempel paspor kedatangan. “Jadi, hingga bandara di Madinah atau Jeddah, jamaah berangkat dari tiga keberangkatan ini dapat langsung mengarah ke bus guna diantar ke hotel,” kata Lukman.

Inovasi kedua, yaitu berhubungan QR Code pada gelang jamaah. QR Code mengandung rekam data identitas jamaah bisa diakses melalui software haji pintar. Ini akan mempermudah petugas haji dalam mengidentifikasi dan menolong jamaah memerlukan pertolongan.

Inovasi ketiga, sistem sewa akomodasi satu musim sarat di Madinah. Selama ini, sistem sewa laksana itu melulu diterapkan di Makkah. Sedangkan di Madinah, sewa akomodasi dilaksanakan secara blocking time.

Mulai tahun ini, 52,02 persen jamaah bakal ditempatkan di 32 hotel dicarter satu musim penuh. Artinya, hotel menjadi hak jamaah Indonesia secara sarat tidak dipecah dengan negara lain. Dengan begitu, pemindahan jamaah dari Madinah ke Makkah atau sebaliknya, dapat dilaksanakan dengan menyimak kenyamanan jamaah.

“Kita tidak lagi cemas dengan masalah batas waktu bermukim di hotel, laksana pada sistem blocking time,” jelas Lukman.

Inovasi keempat, bersangkutan pemakaian bumbu masakan dan juru masak (chef) asal Indonesia. Kemenag meminta untuk seluruh perusahaan katering untuk memakai bumbu pribumi dari Indonesia. Di samping untuk mengawal cita rasa khas kuliner Indonesia, ini pun untuk menambah ekspor Indonesia ke luar negeri. Selama ini, bumbu masak di Saudi didominasi dari negara lain.

“Kami pun wajibkan penyedia katering guna memperkerjakan juru masak pribumi Indonesia,” ujar Lukman.

Inovasi kelima, yakni layanan katering untuk jamaah haji Indonesia tahun ini sekitar di Makkah bakal ditambah. Kalau sebelumnya melulu 25 kali, tahun ini menjadi 40 kali. Di samping itu, ada pun penambahan pemberian kelengkapan minuman dan makanan berupa teh, gula, kopi, saos sambel, kecap dan satu potong roti untuk masing-masing jmaah.

Sementara, dana living cost sebesar 1500 Riyal, tetap diserahkan penuh sebagaimana biasa sehingga dapat digunakan jamaah untuk kebutuhan lainnya. “Jamaah haji diberangkatkan pagi hari dari hotel di Makkah pada 8 dzulhijjah atau fase puncak haji, bakal mendapat tambahan santap siang di Arafah,” ucap Lukman..

Inovasi keenam, penandaan eksklusif pada paspor dan koper, serta pemakaian tas kabin. Untuk mempermudah pengelompokan, paspor dan koper jemaah tahun ini diberi tanda warna eksklusif per regu di masing-masing kloternya. Tanda warna ini pun sekaligus menunjukan sektor atau distrik hotel dan nomer hotel lokasi tinggal jamaah.

Inovasi ini guna mempermudah identifikasi paspor dan menghindari tertukarnya koper jamaah. Apalagi, tahun ini layanan hotel juga diperbanyak dengan jasa angkut sampai-sampai jemaah tidak butuh lagi membawa kopernya sampai sampai pintu kamar.

Sebelumnya, koper jamaah tidak jarang bercampur sebab sulit diidentifikasi dan mereka pun membawa kopernya sendiri ke kamar. Tahun ini, tas kabin jamaah juga diolah dari sebelumnya berbentuk tas jinjing atau tenteng menjadi tas beroda sampai-sampai jamaah haji lebih gampang membawanya.

Inovasi ketujuh ialah pengalihan porsi untuk jamaah wafat kepada berpengalaman waris. Tahun ini, Kemenag telah menerbitkan regulasi baru bahwa jamaah wafat boleh digantikan berpengalaman warisnya. Dengan kriteria, jamaah itu wafat setelah diputuskan sebagai jamaah berhak lunas pada tahun berjalan. Bagi tahun ini, mereka ialah jamaah wafat sesudah 16 Maret 2018.

Sebelumnya, porsi jamaah wafat tidak dapat digantikan sampai-sampai uangnya ditarik pulang oleh berpengalaman waris. Jika akan dipakai untuk mendaftar, maka berpengalaman waris terhitung dalam antrian baru.

Pencetakan visa ketika ini sudah dapat dilakukan oleh Kemenag menjadi inovasi kedelapan. Inovasi ini paling signifikan dalam mempercepat proses penyiapan dokumen embarkasi jemaah. Sebelumnya, Kemenag mesti menantikan visa dari Kedutaan Saudi sampai-sampai tidak jarang prosesnya menjadi lebih lama.

Inovasi kesembilan, untuk mengintensifkan layanan tuntunan ibadah, Kemenag tahun ini menanam satu konsultan di tiap sektor. Selama ini, konsultan ibadah melulu ada di kantor Daker (Daerah Kerja) Makkah. Konsultan ini diharapkan dapat bersinergi dengan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) terdapat di tiap kloter.

Inovasi kesepuluh, Kemenag telah menyusun tim Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (P3JH). Tim ini terdiri dari petugas layanan umum memiliki keterampilan medis. Diisi oleh petugas dari lokasi tinggal sakit haji, prodi kedokteran UIN Jakarta, serta lokasi tinggal sakit TNI/Polri.

Tim ini disiapkan untuk menyokong layanan kesehatan pada puncak haji, utamanya pada hari kesatu lontar jumroh. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, tidak sedikit jemaah memerlukan pertolongan kesehatan di areal Jamarat mengarah ke Mina.

“Sepuluh inovasi ini adalahupaya pemerintah guna terus menambah pelayanan untuk jamaah. Harapannya, mereka dapat beribadah dengan tenang, mendapat kemabruran, serta pulang ke Tanah Air dalam situasi sehat,” jelas Lukman.